AS Bawa Kabar Buruk, Rupee Rawan Koreksi Hari Ini!


Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah terpantau mulai menguat pasca rilis data Indeks Kepercayaan Konsumen (CII) Bank Indonesia (BI). Meski demikian, data neraca perdagangan Amerika Serikat (AS) yang menyempit dan prospek perlambatan ekonomi global masih menjadi risiko yang akan memberikan tekanan pada rupee saat ini.

Berdasarkan data Refinitiv, pada perdagangan Selasa (1/09/2024) kemarin, mata uang Garuda berakhir di Rp 15.515/US$ atau terapresiasi 0,03%. Penguatan tersebut mematahkan tren turun berturut-turut yang terjadi selama lima hari terakhir sejak 2 Januari 2024.

Sementara itu, DXY kemarin hingga pukul 14.47 WIB terpantau masih menguat tipis sebesar 0,01% ke level 102,21. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan penutupan perdagangan Senin (8 Januari 2024) yang berada di 102,20.


Penguatan rupee kemarin dikabarkan didorong oleh data IKK Desember 2023 yang naik menjadi 123,8 dari bulan sebelumnya 123,6.

Meningkatnya kepercayaan konsumen pada Desember 2023 disebabkan oleh menguatnya indeks kondisi perekonomian saat ini (IKE). Peningkatan IKE tercatat terutama pada tahun

Indeks pembelian barang tahan lama konsumen. Indeks ekspektasi konsumen (IEC) terhadap kondisi perekonomian 6 bulan ke depan masih kuat didukung oleh indeks ekspektasi pendapatan.

Kenaikan IKK menandakan konsumsi masyarakat Indonesia semakin membaik dan menunjukkan kinerja perekonomian Indonesia yang baik.

Kendati demikian, rupee masih berpotensi bergejolak pada hari ini, Rabu (1/10/2024), seiring dengan dirilisnya data neraca perdagangan AS tadi malam dengan hasil yang kurang memuaskan.

Tadi malam waktu Indonesia, dirilis data neraca dagang AS periode November 2023. Data tersebut menunjukkan defisit perdagangan Negeri Paman Sam di luar dugaan menyempit pada November 2023 seiring turunnya impor, berdasarkan data Biro Sensus Departemen Perdagangan AS.

READ  Belajar dari sistem pendidikan di Finlandia

Defisit perdagangan menyempit sebesar 2% menjadi $63,2 miliar pada November 2023. Angka pada bulan Oktober 2023 direvisi sedikit untuk menunjukkan kesenjangan perdagangan melebar menjadi $64,5 miliar, bukan $64,3 miliar seperti yang dilaporkan sebelumnya.

Ekspor AS turun menjadi $253,7 miliar pada November 2023, turun dari Oktober 2023. Impor juga turun menjadi $316,9 miliar. Penurunan defisit barang dan peningkatan surplus jasa berkontribusi terhadap pengurangan defisit secara keseluruhan.

Untuk pandangan lain, Bank Dunia, dalam laporan terbarunya Prospek Ekonomi Global Januari 2024, memperkirakan perekonomian global akan melambat menjadi 2,4% tahun ini, dibandingkan 2,6% pada tahun 2023.

Perekonomian global diperkirakan hanya tumbuh sebesar 2,7% pada tahun 2025, lebih rendah dibandingkan proyeksi bulan Juni lalu sebesar 3,0%.

Pertumbuhan sebesar 2,6% pada tahun 2023 juga akan menjadi yang terendah dalam 50 tahun terakhir, jika tidak terjadi resesi global selama pandemi. Bank Dunia juga menyebut ini pertama kalinya mereka memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan terus menurun selama tiga tahun berturut-turut.

Dengan pertumbuhan hanya berkisar 2%, Bank Dunia mencap awal tahun 2020-an (2020-2024) sebagai periode terburuk dalam 30 tahun terakhir. Menurut Bank Dunia, perekonomian dunia akan melemah akibat pengetatan kebijakan moneter, terbatasnya ekspansi keuangan, serta lemahnya investasi dan perdagangan global.

Bank Dunia juga telah memperingatkan bahwa terdapat risiko besar terhadap pertumbuhan di masa depan akibat konflik di Timur Tengah, gangguan terhadap pasar komoditas, tingginya biaya pinjaman, meningkatnya utang, menyusutnya perekonomian Tiongkok, inflasi yang terus-menerus tinggi, dan perubahan iklim yang ekstrem.

“Prospek untuk dua tahun ke depan suram. Sebagian besar negara, baik negara maju maupun berkembang, akan tumbuh lebih lambat pada tahun 2024 dan 2025 dibandingkan dekade sebelum COVID-19,” tulis Bank Dunia dalam prospek ekonomi globalnya. Laporan Januari 2024 yang diterbitkan pada Selasa (1/9/2024).

READ  Pengelolaan Proyek Kompleks Di Mataram Terbaru

Dalam kasus Indonesia, Bank Dunia mempertahankan perkiraan pertumbuhan tahun ini sebesar 4,9%. Namun, mereka memangkas perkiraan untuk tahun 2025 menjadi 4,9% dari 5,0% pada perkiraan bulan Juni lalu.

Bank Dunia telah memperingatkan bahwa Indonesia tidak akan lagi diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas pada tahun ini dan tahun depan. Seperti halnya negara-negara Asia, Indonesia juga akan terkena dampak pelemahan ekonomi Tiongkok.

Rupiah Teknis

Secara teknikal secara grafik per jam, pergerakan rupee saat ini masih dalam tren sideways. Di dekatnya, rupiah berpotensi menguji support di IDR/US$15.500. Posisi ini berada di dekat garis moving average 50 jam atau moving average 50 (MA50) sebagai target penguatan mata uang Garuda dalam jangka pendek.

Meski begitu, kita masih perlu memprediksi apakah akan terjadi pembalikan pelemahan dengan memperhatikan resistance terdekat di Rp 15.535/US$. Posisi ini didapat dari garis horizontal berdasarkan high candle yang diuji pada 4 Januari 2024.

RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

Artikel lain

Rupiah dipengaruhi oleh Fed, dolar mencapai Rp 15.500

(tsn/tsn)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *